Garut tidak hanya terkenal dengan dodolnya saja, namun juga menyimpan peninggalan bersejarah yaitu Candi Cangkuang. Candi ini merupakan satusatunya peninggalan bersejarah yang masih utuh di wilayah tersebut.

Harga Tiket: Rp 5.000, Jam Operasional: 24 Jam, Alamat: Jl. Darajat Leuwigoong, Cangkuang, Kec. Leles, Kab. Garut, Jawa Barat; Map: Cek Lokasi

Mengunjungi wisata sejarah tidak selalu berakhir membosankan, karena banyak sekali hal yang dapat Anda telusuri untuk menambah wawasan. Di samping itu, wisata sejarah yang kental akan nuansa zaman dulu tentunya dapat dijadikan tempat berburu foto klasik yang ciamik. Salah satu yang tidak boleh Anda lewatkan yaitu Candi Cangkuang yang ada di Jawa Barat.

Sejarah Candi Cangkuang Garut

Sejarah Candi Cangkuang
Image Credit: Twitter.com @breaktimeind

Menurut sejarahnya, Candi ini ditemukan pada tahun 1966 oleh seorang ahli purbakala yaitu Drs. Uka Tjandra Sasmita. Penemuan oleh ahli purbakala tersebut dibantu dengan adanya tulisan karya Vorderman, seorang warga Belanda yang saat itu menetap di Garut. Vorderman menuliskan buku berjudul Bataviasch Genoot Schap.

Pada buku yang digarap tahun 1893 tersebut, menyebutkan bahwa ada arca dan makam kuno di daerah Desa Cangkuang. Berdasarkan tulisan tersebut, tim peneliti yang saat itu berasal dari empat wilayah yaitu Jawa Barat, Provinsi Banten, DKI Jakarta, dan Lampung, melakukan penelitian serta penggalian di Desa Cangkuang.

Penelitian dan penggalian tersebut dilakukan mulai tahun 1967 sampai tahun 1968, yang mana pada tahun 1966-nya ditemukannya Candi Cangkuang. Kala itu, tim peneliti menemukan pondasi candi dengan ukuran sekitar 4,5 x 4,5 meter. Di samping itu, terdapat banyak puing puing candi berserakan yang juga ditemukan.

Namun tidak terdapat keterangan yang jelas terkait dengan siapa yang membangun candi, atau kerajaan mana yang memiliki candi tersebut. Kendati demikian, bila diperhatikan lebih teliti pada batuan penyusunnya dan kesederhanaan bentuknya. Para peneliti memperkirakan bahwa bangunan bersejarah ini ini berasal dari abad ke-VII hingga ke-VIII Masehi, peninggalan masa Hindu-Budha.

Perkiraan tersebut lantaran bentuk bangunan candi terlihat tidak memiliki gambar relief dan masih polos pada dindingnya. Model ini mempunyai kemiripan dengan bangunan bangunan candi yang ada di Gedong Songo, dataran tinggi Dieng, Jawa Tengah. Terlebih di reruntuhan Candi Cangkuang ini juga ditemukan arca Siwa.

Dari penggalian yang dilakukan oleh para peneliti, setidaknya hanya sekitar 40 persen puing puing candi yang dapat dikumpulkan. Selanjutnya candi dipugar dengan tambahan 60 persen puing batu yang dicetak, agar bangunan candi bisa mirip dengan perkiraan dari bentuk aslinya. Usai dipugar, situs candi ini mempunyai ukuran sebesar 4 x 18 x 8 meter.

Nama dari candi dipilih dari tempat ditemukannya yaitu Desa Cangkuang, yang mana Cangkuang sendiri sebenarnya berasal dari nama tanaman yang sejenis pandan atau pandanus furcatus. Tanaman ini juga banyak ditemukan di sekitar candi, dan penduduk sekitar banyak memanfaatkannya sebagai bahan untuk membuat tikar, tudung, hingga pembungkus gula aren.

Daya Tarik yang Dimiliki Candi Cangkuang

Daya Tarik Candi Cangkuang
Image Credit: Twitter.com @indtraverse

Daya tarik yang dimiliki oleh Candi Cangkuang tidak hanya berasal dari sejarah dari candi itu sendiri. Sebab selain candi, di sekitarnya atau tepatnya di sebelah selatan candi bisa ditemukan pemukiman adat Kampung Pulo. Pemukiman adat ini merupakan bagian dari cagar budaya, masih satu kompleks dengan candi ini.

Menurut cerita, Kampung Pulo tersebut adalah tempat penyebaran agama Islam pertama yang ada di daerah Cangkuang, bahkan di Garut. Saat penyebaran agama Islam dilakukan kala itu, Eyang Embah Dalem Arief Muhammad disebutkan turut andil dalam mendirikan peradaban di sekitar area ini.

Eyang Embah Dalem Arief Muhammad adalah panglima perang dari Kerajaan Mataram. Saat itu Sultan Agung mengutusnya untuk menyerang VOC yang ada di Batavia. Sayangnya, Eyang Embah Dalem Arief Muhammad kalah di tangan VOC. Karena takut mendapatkan sanksi apabila kembali ke Mataram, ia pun memutuskan bersembunyi di daerah Cangkuang.

Selama bersembunyi di daerah Cangkuang atau tepatnya di Kampung Pulo, Arief Muhammad sekaligus melakukan penyebaran agama Islam ke masyarakat sekitar yang saat itu mayoritas menganut agama Hindu, animisme, dan dinamisme. Selama sisa hidupnya, Embah Dalem Arief Muhammad pun menghabiskannya di sini.

Sehingga saat ini, penduduk yang ada di Kampung Pulo adalah keturunan asli dari almarhum. Setidaknya terdapat sekitar 23 orang yang mendiami Kampung Pulo sekarang, terdiri dari 13 laki laki dan 10 perempuan. Mereka ini adalah generasi ke-8, ke-9, serta generasi ke-10 dari almarhum Eyang Embah Dalem Arief Muhammad.

Daya Tarik Cangkuang
Image Credit: Twitter.com @tesyasblog

Jika berkunjung ke kompleks Kampung Pulo, wisatawan akan menemukan bahwa bangunan di sini hanya berjumlah 7 yang terdiri dari 6 rumah dan 1 mushola. Sejak abad ke-17, banyaknya jumlah bangunan ini tidak pernah berubah. Karena ini merupakan simbol putra putri Embah Dalem Arief Muhammad yang mempunyai 7 orang anak.

Jadi di Kampung Pulo ini tidak boleh ada penambahan kepala keluarga. Apabila Anda warga adat yang menikah, maka keluarganya harus keluar dari kampung. Lalu bisa kembali lagi apabila ayah atau ibunya meninggal untuk mengisi kekosongan di Kampung Pulo. Hak waris dari orangtuanya nantinya akan jatuh pada anak perempuan.

Pasalnya anak perempuan dari Embah Dalem Arief Muhammad yang berhasil melanjutkan keturunan. Sebab anak laki satu satunya disebutkan meninggal ketika hendak disunat. Oleh karena itu, satu satunya bangunan mushola di kampung ini dibangun sebagai simbol satu anak laki laki tersebut. Inilah mengapa jika ada anak yang disunat, saat ini selalu diadakan pesta besar di kampung tersebut.

Makam Eyang Embah Dalem Arief Muhammad sendiri bisa ditemukan di dekat candi dan perkampungan tersebut. Masyarakat sekitar juga terlihat cukup sering melakukan ziarah ke kuburan, namun selain hari Rabu dan malam Rabu. Pada hari tersebut memang diberlakukan larangan ziarah, sebab pada masa agama Hindu hari Rabu ini dijadikan hari untuk melakukan ibadah mereka.

Kompleks-nya wisata sejarah yang ditawarkan oleh kawasan cagar budaya Candi Cangkuang membuat banyak wisatawan tertarik untuk berkunjung kemari. Entah untuk menambah wawasan, melakukan wisata religi, hingga berburu foto dengan nuansa zaman dulu yang begitu kental. Selain itu, masih banyak lagi kegiatan menarik yang dapat dilakukan di sini.

Alamat, Rute Lokasi dan Harga Tiket Masuk Candi Cangkuang

Alamat Candi Cangkuang
Image Credit: Google Maps (Ridho Tadjudin)

Candi ini berlokasi di Kampung Pulo, Desa Cangkuang, Kecamatan Leles, Garut, Jawa Barat. Dimana Kampung Pulo tersebut ada di Pulau Panjang yang terletak di tengah Situ Cangkuang. Jadi untuk mengunjungi cagar budaya tersebut, para wisatawan perlu menyeberangi Situ Cangkuang terlebih dahulu.

Sedangkan untuk sampai di Situ Cangkuang sendiri, Anda bisa memanfaatkan kendaraan pribadi maupun transportasi publik. Jika memilih menggunakan kendaraan umum, maka gunakan bus dengan jurusan Bandung – Leles hingga sampai ke Alun Alun Leles. Dari Alun Alun Leles, Anda bisa menyewa ojeg yang membutuhkan jarak tempuh kurang lebih 3 km.

Candi Cangkuang bisa Anda kunjungi setiap hari pada pukul 08.00 hingga 16.00, karena cagar budaya satu ini dibuka untuk umum kapan saja kecuali hari hari besar Islam tertentu. Sebab area candi biasanya akan digunakan untuk melakukan perayaan. Jadi besar kemungkinan jika candi tidak dibuka untuk umum pada saat saat tersebut.

Sedangkan tarif masuk yang perlu Anda bayarkan terbilang sangat terjangkau, yaitu sekitar Rp. 5.000 saja per-orangnya untuk orang dewasa dan Rp. 3.000 untuk anak anak. Selain tiket masuk, Anda juga perlu menyiapkan dana untuk tiket rakit pulang pergi untuk sampai ke tengah danau yang dibanderol dengan harga sekitar Rp. 5.000 saja.

Kegiatan yang Menarik Dilakukan di Candi Cangkuang

Kegiatan di Candi Cangkuang
Image Credit: [email protected]

1. Mengunjungi Museum Situs Cangkuang

Selain melihat bangunan candinya, Anda juga bisa mengunjungi Museum Situs Cangkuang yang lokasinya berada pada area sama dengan Candi Cangkuang itu sendiri. Yang bisa Anda temukan di dalam museum tentunya berbagai peninggalan dari hasil galian candi tersebut, hingga peninggalan dari penyebaran agama Islam yang dilakukan di sini.

Seperti kitab kitab tulisan tangan oleh Eyang Embah Dalem Arief Muhammad, Al-Qur’an, catatan khutbah Jumat, dan lain sebagainya. Pada hari hari tertentu, warga dari Kampung Pulo biasanya akan melakukan pencucian pada benda maupun senjata pusaka yang disimpan di dalam museum. Meski lazimnya diadakan di malam hari, masyarakat umum terkadang boleh turut menyaksikannya.

2. Mengeksplor Kampung Pulo

Kompleks Rumah Adat Kampung Pulo yang termasuk di dalam area cagar budaya tentu tidak boleh terlewat untuk dieksplorasi. Meski tidak ada bangunan tambahan sejak dulu, namun suasana di kampung ini sudah jauh dari kata kuno maupun gelap. Karena warga kampung adat terus berbenah menjadi objek wisata, meski di lain sisi tradisi mereka terus dipegang kuat.

3. Ziarah ke Makam

Makam Eyang Embah Dalem Arief Muhammad yang merupakan salah satu pelopor penyebaran agama Islam di daerah Kampung Pulo juga Garut, bisa Anda temukan di sekitar area candi. Makam dari salah satu leluhur penduduk Kampung Adat Pulo ini tidak jarang disambangi sebagai tujuan ziarah bagi warga yang berasal dari berbagai daerah.

Mengunjungi Candi Cangkuang memang sangat jauh dari kata membosankan, mematahkan anggapan bahwa wisata sejarah tidak menarik untuk dieksplorasi. Terlebih cagar budaya ini menghadirkan banyak hal menarik yang dapat menambah wawasan Anda. Jadi, liburan selanjutnya jangan lupa untuk bertandang ke wisata sejarah yang ada di Garut satu ini.