Candi Cetho memiliki corak bangunan Hindu dan struktur serta ornamennya sangat unik. Letaknya berada di lereng Gunung Lawu sehingga memiliki lanskap berupa perbukitan hijau. Berbagai spot foto di kawasan Candi tampak instagenic dan berhasil menarik hati para wisatawan.

Harga Tiket: Rp 10.000, Jam Operasional: 08.00–16.30 WIB, Alamat: Cetho, Gumeng, Kec. Jenawi, Kab. Karanganyar, Jawa Tengah; Map: Cek Lokasi

Bicara tentang sejarah Karanganyar maka tidak lepas dari situs candi yang ditinggalkan kerajaan terdahulu. Salah satunya Candi Cetho yang terletak di jalur pendakian Gunung Lawu. Meskipun perjalanan yang ditempuh lama, namun pesona yang dihadirkan wisata sejarah ini cukup menakjubkan. Penasaran seperti apa sisi menawannya? Simak ulasannya berikut ini.

Sekilas Sejarah Candi Cetho

Sejarah Candi Cetho
Image Credit: Google Maps Wicak 507

Konon candi yang bercorak Hindu ini telah dibangun pada masa kerajaan Majapahit. Dalam kisahnya disebutkan bahwa situs sejarah ini sudah ada sejak masa pemerintahan Raja Brawijaya V. Ketika pertama kali ditemukan candi hanya berupa reruntuhan batu, yang berbentuk punden. Tingkatan punden tersebut tediri dari 14 teras dan bentuknya memanjang.

Kompleks bangunan ini membentang dari dataran paling rendah, menuju ke dataran paling tinggi di sisi Timur. Pemerintah setempat sudah memugar candi dan yang baru selesai dipugar baru 9 teras. Struktur candi dengan punden berundak memberikan dugaan kuat, bahwa Candi Cetho memiliki perpaduan antara unsur Hinduisme dan kultur asli Nusantara.

Bagian teras candi berjumlah tujuh buah yang masing-masing melambangkan kehidupan manusia. Dalam kepercayaan Hindu, tujuh tingkatan tersebut meliputi Bhurloka, Bhuvarloka, Svarloka, Caturloka, Janaloka, Tapaloka, dan Saptaloka. Di teras terendah melambangkan manusia yang dikuasai hawa nafsu, sedangkan teras tertinggi dianggap suci dimana manusia sudah terlepas dari hukum karma.

Candi ini masih dimanfaatkan sebagai tempat ibadah oleh umat Hindu. Bagian pelataran candi biasa digunakan untuk tempat menggelar upacara rutin setiap tanggal 1 Syuro. Kemudian setiap 6 bulan sekali di kompleks candi selalu ada peringatan Wuku Medangsia. Selain dua tradisi tersebut, situs sejarah ini juga digunakan untuk berbagai aktivitas spiritual lainnya.

Ada aturan yang wajib dipatuhi saat berkunjung, yaitu mengenakan kain bermotif kotak-kotak berwarna hitam dan putih. Wisatawan juga diharuskan memakai baju yang tidak terbuka atau baju panjang. Anjuran tersebut diberlakukan karena kompleks candi termasuk dalam area peribadatan. Sehingga untuk menghormatinya wisatawan dihimbau untuk mejaga sopan santun.

Daya Tarik yang Dimiliki Candi Cetho

Daya Tarik Candi Cetho
Image Credit: Google Maps Omah Plafon Ngawi

Candi unik ini berada pada ketinggian 1496 mdpl dan menjadi salah satu candi tertinggi di Indonesia. Letaknya yang berada di kaki gunung menjadikan panorama sekitarnya sangat mengesankan. Hamparan perkebunan teh akan Anda lewati ketika perjalanan menuju area candi. Ditambah lagi latar belakang berupa persawahan dan perbukitan menjadi daya tarik kawasan wisata ini.

Di bagian pelataran candi terdapat pondok-pondok dan situs lingga yoni. Sepintas tatanan batu tersebut terkesan vulgar dan berkonotasi pornografi, namun sebenarnya situs tersebut simbol dari kesuburan. Batu berbentuk kura-kura yang memiliki arti penciptaan alam, serta arca-arca lain mengikuti gaya pra sejarah. Berkat bentuknya situs ini kerap dijadikan bahan penelitian untuk para arkeolog.

Pada bagian Timur Candi Cetho, Anda dapat menjumpai gapura berhiaskan arca batu yaitu Arca Nyai Gemang Arum. Kemudian di sisi Selatan terhampar bangunan tanpa dinding, hanya berupa pondasi dengan tinggi 2 meter. Di dalam bangunan tersebut ada susunan batu-batu dan bekas sesajian, yang menandakan bahwa tempat ini sering dipakai untuk beribadah.

Bagian dalam kompleks bangunan juga kerap dijumpai beberapa arca zaman pra sejarah. Sayangnya sebagian besar sudah tidak utuh lagi, namun tetap menjadi situs yang digemari wisatawan. Selain arca, ada pula relief-relief yang menceritakan tentang kisah Samudramanthana dan Garudeya. Reliefnya mengisahkan tentang semangat manusia untuk membebaskan diri dari malapetaka.

Kemudian pada teras kedelapan, Anda akan menemukan arca kuntobimo dan arca Prabu Brawijaya V dalam wujud mahadewa. Sedangkan pada teras kesembilan tidak dapat dimasuki oleh wisatawan. Bagian gerbangnya dikunci dan hanya dibuka ketika ada acara-acara khusus, seperti sembahyang dan ritual upacara adat.

Tidak jauh dari kawasan candi, terdapat basecamp bagi para pendaki yang ingin menuju ke Gunung Lawu. Meskipun jalur via Cetho ini sekitar 10 km lebih jauh, namun banyak pendaki yang memilih untuk melewati rute ini. Sebab di jalur Cetho pemandangan yang disuguhkan jauh lebih menarik. Selain itu, para pendaki bisa mampir terlebih dahulu ke area wisata sejarah ini.

Alamat dan Rute Menuju Lokasi Candi Cetho

Alamat Candi Cetho
Image Credit: Google Maps Tjiunggu Tjermin

Candi ini berada di kaki Gunung Lawu tepatnya di Dusun Cetho, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Untuk menuju kawasan situs sejarah ini, Anda harus menyiapkan fisik yang kuat dan peforma kendaraan pribadi. Akses jalan yang sulit dijangkau membuatnya tidak dilalui oleh saran transportasi umum. Kondisi jalannya berliku-liku dan memiliki tanjakan yang tajam serta agak curam.

Darimanapun asal kota Anda tetap ambil jalur menuju arah kota Solo, lalu pergi ke Terminal Karang Pandan. Dari terminal ada dua rute yang bisa Anda tempuh, bila ke kanan berarti lewat jalan aspal menuju ke Tawangmangu. Sedangkan jika memilih belok kiri Anda cukup lurus saja mengikuti petunjuk jalan, sampai nanti menemukan kebun teh Kemuning.

Dari Kemuning Anda menuju ke Pertigaan Nglorog, barulah pergi ke daerah Cetho sekitar 12 km. Jalan yang Anda lalui menanjak dan berliku-liku, cukup melelahkan bagi si sopir. Namun sepanjang perjalanan akan dimanjakan oleh pemandangan hijau nan sejuk. Sampai Anda bertemu gapura masuk, tandanya Anda sudah semakin dekat dengan lokasi wiasata Candi Cetho.

Harga Tiket Masuk Wisata Candi Cetho

Harga Tiket Candi Cetho
Image Credit: Google Maps Tjiunggu Tjermin

Untuk memasuki area bangunan bersejarah ini, wisatawan lokal dikenakan harga 10 ribu sedangkan wisatawan asing sebesar 25 ribu. Ketika masuk Anda akan mendapatkan kain Poleng, yang dikenakan di bagian pinggang. Kain tersebut berfungsi sebagai cara menghormati kesucian candi ini, karena kompleks candi juga digunakan untuk sarana peribadatan.

Apabila Anda membawa kendaraan maka masing-masingnya dikenakan biaya parkir. Untuk mobil mendapatkan retribusi sebesar 5 ribu, sedangkan motor cukup dengan 2 ribu. Baik biaya masuk candi maupun parkir, keduanya digunakan sebagai biaya perbaikan area situs peninggalan ini. Selain itu, juga dimanfaatkan untuk penambahan fasilitas untuk kenyamanan pengunjung.

Aktivitas Menarik yang Dilakukan di Candi Cetho

Kegiatan Candi Cetho
Image Credit: Google Maps wardana hanyfa

1. Mempelajari Peninggalan Sejarah

Sebagai situs peninggalan kerajaan Majapahit, bangunan candi ini mempunyai keunikan tersendiri. Hal tersebut tampak dari struktur, bentuk, dan ornamen bangunan yang terlihat berbeda. Itulah alasannya mengapa Candi Cetho kerap menjadi objek penelitian, bagi para pemerhati situs bersejarah untuk mendalami disiplin ilmu arkeologi.

Tak hanya para arkeolog, wisatawan yang gemar menelusuri wisata sejarah juga menganggap candi ini istimewa. Sebagian besar rela menghabiskan tenaga untuk melihat langsung sisi unik dari peninggalan sejarah ini. Meskipun namanya belum terlalu terkenal, namun candi ini mempunyai daya tarik yang tak ingin dilewatkan begitu saja.

2. Berdoa di Pelataran Candi

Bagi wisatawan yang beragama Hindu, saat berkunjung ke area candi bisa Anda manfaatkan untuk berdoa. Anda akan dipandu oleh petugas setempat, dan sudah disediakan dupa sebagai salah satu syarat doa. Suasana sekitar candi yang syahdu membuat agenda berdoa Anda semakin khusyuk. Anda bisa merefleksikan diri sambil mengulas apa saja kesalahan yang sudah diperbuat.

3. Mampir Sebelum ke Puncak Lawu

Berada di jalur pendakian Gunung Lawu, membuat Candi Cetho sering menjadi tempat transit para pendaki. Biasanya wisatawan yang akan naik gunung mampir ke area candi sebentar. Sebagian besar penasaran dengan suguhan pesona bangunan yang terlihat memikat. Agenda ini dilakukan sebab saat turun dari puncak nanti pasti sudah malas untuk mampir ke wisata lain.

4. Berfoto dengan Lanskap Candi

Lingkungan di kompleks candi menyuguhkan keindahan alam yang memanjakan mata. Perbukitan bak permadani hijau serta jajaran gunung menjadi latar dari megahnya candi. Tak heran wisatawan menyebutnya sebagai spot terbaik untuk berpose di kamera. Dengan latar belakang bangunan candi, Anda akan menghasilkan jepretan kamera yang instgramable.

Spot favorit para wisatawan adalah dua bangunan mirip gapura, yang mengapit jalan sempit di bagian tengah. Biasanya lokasi tersebut dimanfaatkan pengunjung untuk mengambil foto. Pemandangan instagenic dengan ornamen batuan menambah nilai estetika dari hasil jepretan. Paling unik ketika mengambil foto saat sore dan senja sebab menghasilkan siluet yang indah.

5. Berburu Waktu Senja

Berada di area pegunungan menjadikan waktu senja di kawasan candi sangat dinantikan. Anda akan melihat semburat senja yang menyelimuti sebagian besar area candi. Momen tersebut membuat candi terlihat seperti siluet dari kejauhan. Suasana syahdu semakin terasa apalagi angin sore berhembus lebih kencang. Sehingga membawa kesan damai tersendiri.

Biasanya sekitar pukul 4-5 sore cahaya matahari mulai meredup, dan menyisakan bias matahari terbenam. Pada waktu inilah wisatawan perlu menyiapkan kameranya, lalu mengambil banyak foto. Siluet candi dengan lanskap perbukitan menjadi hasil jepretan yang sangat epik. Kesan misterius yang magis dari Candi Cetho bertambah sangat kuat.

6. Mengikuti Ritual Adat

Pada waktu tertentu seperti bulan 1 Syuro atau Wuku Medangsia, akan diselenggarakan upacara adat di pelataran candi. Biasanya masyarakat setempat berdoa dan menggelar sesajian untuk menghormati leluhur. Jika waktunya tepat Anda dipersilahkan untuk melihat jalannya tradisi tersebut. Namun harus berpakaian sopan dan tidak boleh berisik selama upacara berlangsung.

Fasilitas yang Tersedia di Candi Cetho

Fasilitas Candi Cetho
Image Credit: Google Maps andi tristianto

Tidak banyak fasilitas yang tersedia di area candi, karena letaknya yang berada di lereng gunung. Namun tetap ada beberapa warung yang bisa Anda jumpai di sekitar area parkir. Ada juga sendang yang dikeramatkan oleh warga desa, tetapi wisatawan bisa mengambil airnya untuk diminum atau dibasuh ke seluruh badan.

Karena jarang ada wisatawan yang datang ke wisata sejarah ini, maka sedikit sulit menemukan penginapan. Akses jalannya rumit sehingga para pengunjung akan berpikir dua kali untuk kemari. Sekalinya Anda menemukan akomodasi menginap, tempatnya sederhana tapi fasilitas cukup memadai. Udara sejuk dan tempat yang nyaman sangat pas untuk beristirahat sebentar.

Bila ragu untuk menginap di salah satu penginapan, Anda bisa meminta bantuan kepada warga desa. Hampir semua penduduk setempat terbuka dan menyambut gembira para wisatawan. Oleh sebab itu, mereka cenderung mempersilahkan rumahnya untuk tempat menginap sementara.

Berkunjung ke Jawa Tengah kurang puas jika belum melipir ke daerah lereng Gunung Lawu. Di kaki gunung ini Anda akan menemukan bangunan bercorak Hindu bernama Candi Cetho. Pemandangan sekitar candi sangat mengagumkan dengan perbukitan hijau dan area persawahan. Udara sejuk serta bentu bangunan yang unik menjadi daya tarik utama dari wisata ini.