Harga Tiket: Gratis, Jam Operasional: 10.00-13.00 WIB, Alamat: Karang Kulon, Wukirsari, Kec. Imogiri, Kab. Bantul, DI Yogyakarta; Map: Cek Lokasi

Makam Raja-Raja Imogiri merupakan salah satu tempat yang sakral bagi masyarakat Bantul, Yogyakarta. Selain dihormati, lokasi ini juga dinilai cukup angker karena merupakan tempat pemakaman bagi raja raja yang dulunya pernah bertahta di Jogja sejak zaman Kasultanan Mataram sampai Kasultanan Yogyakarta.

Meskipun begitu, Pemakaman Raja Imogiri yang kini telah menjadi cagar budaya dan dibuka untuk umum menjadi salah satu destinasi favorit bagi para wisatawan. Khususnya yang menyukai wisata sejarah, karena kompleks pemakaman tersebut memang memiliki sejarah yang panjang semenjak dibangun oleh Sultan Agung Hanyakrakusuma pada tahun 1632 M.

Sejarah Makam Raja-Raja Imogiri

Sejarah Makam Raja-Raja Imogiri
Image Credit: Goole Maps Hanan Hari

Makam Raja Imogiri merupakan sebuah kompleks pemakaman yang dikhususkan untuk raja serta keturunannya dari trah Mataram Islam. Menurut catatan, kompleks pemakaman tersebut dibangun sekitar tahun 1632 M oleh Sultan Agung Hanyakrakusuma yang merupakan salah satu raja besar di Kasultanan Mataram.

Akan tetapi, pembangunan keseluruhan kompleks Makam Raja-Raja Imogiri sebenarnya sudah dilakukan sejak tahun 1607 M. Pembangunan tersebut terus berlangsung kurang lebih hingga tahun 1645 M. Dan Imogiri sendiri adalah kompleks pemakaman ketiga yang dibangun setelah makam Kotagede dan Giriloyo.

Letak kompleks Pemakaman Imogiri yaitu di sebuah bukit dengan ketinggian sekitar 100 meter di atas permukaan laut bernama Bukit Merak. Dimana kompleks yang ketiga ini dibangun pada tahun 1632 M di sebelah selatan Makam Giriloyo dan dinamakan Pajimatan Imogiri. Nama Pajimatan Imogiri tersebut berasal dari dua suku kata yang digabungkan.

Yakni jimat yang mendapat awalan pa serta akhiran an, untuk menunjukkan sebuah tempat. Sehingga pajimatan dapat diartikan sebagai tempat untuk jimat atau tempat untuk pusaka. Sementara Imogiri sendiri diambil dari kata ima atau hima, yang berarti gunung tinggi atau gunung berawan.

Dengan kata lain, Pajimatan Imogiri dapat memiliki makna yaitu gunung tinggi atau gunung berawan yang menjadi tempat bersemayamnya jimat bagi Kerajaan Mataram. Sultan Agung yang menjadi pelopor pembangunan kompleks makam ialah orang pertama yang dimakamkan di Pajimatan Imogiri, atau kini lebih dikenal dengan nama Makam Raja-Raja Imogiri.

Meskipun di tahun 1755, Kerajaan Mataram Islam kemudian terpecah menjadi dua akibat dari Perjanjian Giyanti. Namun kedua kesultanan pecahannya tersebut yaitu Surakarta Hadiningrat dan Ngayogyakarta Hadiningrat, tetap memakamkan para raja yang telah wafat di Pajimatan Imogiri.

Sehingga Kompleks Makam Imogiri yang terbagi menjadi 8 kelompok atau disebut kedhaton, kemudian dibagi menjadi empat milik Surakarta Hadiningrat dan tiga kelompok kedhaton milik Ngayogyakarta Hadiningrat. Sementara satu lagi yaitu kedhaton Sultan Agung milik Mataram Islam yang berisikan makam Sultan Agung, Sunan Amangkurat II, dan Sunan Amangkurat III.

Daya Tarik Makam Raja-Raja Imogiri

Daya Tarik Makam Raja-Raja Imogiri
Image Credit: Goole Maps Afiqul Adib

1. Terdiri dari Ratusan Anak Tangga

Untuk memasuki kompleks Pemakaman Raja Raja Imogiri, anda harus melalui ratusan anak tangga terlebih dahulu mengingat bahwa Pajimatan Imogiri memang dibangun di atas bukit. Tangga tangga tersebut dibangun dengan kemiringan 45 derajat dengan lebar sekitar 4 meter. Sehingga dapat memudahkan para peziarah yang mengenakan pakaian adat untuk naik.

Perlu diketahui, memang terdapat aturan bagi para peziarah yang ingin datang ke Makam Raja-Raja Imogiri. Dimana mereka perlu mengenakan pakaian adat terlebih dahulu, dan sampai saat ini aturan tersebut masih berlaku untuk area area tertentu. Hal unik lainnya dari ratusan anak tangga ini adalah konon keinginan anda akan terkabul apabila berhasil menghitung anak tangganya dengan benar.

2. Peziarah Wajib Mengenakan Pakaian Adat

Seperti yang telah disinggung, pada area area tertentu sampai sekarang tetap diberlakukan aturan bahwa peziarah yang datang ke kompleks Pemakaman Raja Raja Imogiri wajib mengenakan pakaian adat. Pakaian adat yang digunakan yaitu pakaian tradisional khas Jawa. Jadi untuk laki laki harus memakai atasan berupa baju peranakan dan kain jarik.

Sementara itu peziarah perempuan harus menggunakan kemben atau kain jarik sebatas dada, sehingga pada bagian bahunya terbuka. Kedua model pakaian untuk para peziarah ini adalah pakaian adat yang biasanya digunakan oleh para abdi dalem. Dan waktu ziarahnya sendiri hanya dibuka sebanyak tiga kali saja dalam seminggu. Biasanya pada hari Senin, Jum’at, dan Minggu mulai pukul 10 pagi sampai 1 siang.

3. Gapura Bernilai Filosofis

Pada kompleks Makam Raja-Raja Imogiri terdapat sebuah gapura yang berdasarkan informasi pembangunannya dilakukan bersamaan dengan pemakaman tersebut. Hal ini diprediksi dari sangkala yang ada di dekat Gapura, dan babad Astana Redi yang menyebutkan bahwa kompleks pemakaman selesai dibangun pada tahun 1645 M.

Gapura yang diberi nama Gapura Supit Urang tersebut merupakan pintu gerbang utama menuju makam makam. Bangunannya terdiri atas susunan batu bata merah tanpa plester dan bagian belakangnya terdapat kelir atau aling aling. Bukan tanpa alasan, gapura ini memiliki nilai filosofis dengan arti magis religius. Yaitu sebagai penghalang nilai jahat yang ingin merusak daerah sakral tempat pemakaman raja.

Daya Tarik di Makam Raja-Raja Imogiri
Image Credit: Goole Maps Nur Ahmad

4. Kedhaton Makam Raja Raja

Pemakaman Raja Imogiri secara garis besar dibagi menjadi beberapa kelompok yang disebut kedhaton. Areal makamnya sendiri terbagi menjadi tiga daerah yaitu Astana Kasultan Agung, di sini dimakamkan Sultan Agung, Sri Ratu Batang, Amangkurat Amral, dan Amangkurat Mas.

Lalu yang kedua wilayah makam raja raja Surakarta yang dibagi kembali menjadi empat hastana. Di sana dimakamkan raja raja dari Kasunanan Surakarta Hadiningrat yaitu pada hastana Pakubuwana, Kasuwargan Surakarta, Kapingsangan Surakarta, dan Girimulya Surakarta. Sedangkan area ketiga yaitu wilayah makam raja raja Ngayogyakarta yang terbagi menjadi tiga hastana.

5. Peninggalan Sultan Agung

Makam Raja-Raja Imogiri tidak hanya dijadikan sebagai tempat pemakaman para raja terdahulu yang pernah memerintah di wilayah Yogyakarta. Namun kompleks pemakaman ini dijadikan pula sebagai tempat untuk menyimpan berbagai peninggalan dari Sultan Agung. Peninggalan yang bertuah inilah yang kerap menarik wisatawan untuk datang berkunjung.

Adapun peninggalannya yaitu air suci dari empat tempayan, cincin kayu yang terbuat dari tongkat Sultan Agung, dan daun tujuh macam. Yang mana peninggalan berupa empat tempayan dapat ditemukan di atas gerbang kedua, dan merupakan pemberian dari empat kerajaan kepada Sultan Agung.

Alamat, Rute Lokasi dan Tiket Masuk

Rute Lokasi Makam Raja-Raja Imogiri
Image Credit: Goole Maps Ifandri Dwi Aryono

Berdasarkan wilayah administrasinya, Makam Raja-Raja Imogiri beralamatkan di Pajimatan, Karang Kulon, Wukirsari, Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul, Yogyakarta. Lokasi ini terletak kurang lebih 16 kilometer di sebelah selatan Keraton Yogyakarta, yang begitu ikonik dari Kota Jogja. Sehingga dijamin anda pasti tidak akan kesulitan untuk menemukannya.

Bagi yang ingin berziarah ke makam, anda bisa datang pada hari Senin, Jum’at dan Minggu. Waktu ziarahnya dibatasi mulai pukul 10.00 sampai dengan 13.00 WIB. Namun untuk hari Jum’at dibuka untuk umum pukul 13.30 sampai 16.00 WIB. Sementara harga tiket masuk bersifat sukarela dengan mengisi kotak infaq, dan biaya sewa pakaian tradisional sekitar Rp. 10.000 per potong.

Kegiatan yang Menarik di Makam Raja-Raja Imogiri

Kegiatan Menarik Makam Raja-Raja Imogiri
Image Credit: Goole Maps Much Ae

1. Berziarah

Kegiatan utama yang dilakukan ketika berkunjung ke Makam Raja-Raja Imogiri tidak lain adalah berziarah. Apalagi di sini merupakan kompleks pemakaman, sehingga ada banyak area yang dapat dituju untuk melakukan ziarah. Selain itu, di dalam terdapat Masjid Pajimatan yang sudah tua namun tetap megah. Jadi anda bisa berdoa di sana untuk raja raja yang sudah wafat.

2. Membawa Pulang Cincin Kayu

Cincin kayu dibuat dari tongkat Sultan Agung dan konon sangat berkhasiat bagi pemiliknya. Jika memungkinkan, anda bisa membawa pulang apa yang diwariskan oleh Sultan Agung tersebut. Karena kayu itu sendiri yang akan memutuskan apakah mau dibawa pulang atau tidak. Caranya yaitu dengan menaruh cincin ke dalam air. Apabila cincin tenggelam, maka pertanda bahkan cincin mau mengikuti pengunjung.

3. Minum Air Suci dari Tempayan

Sultan Agung dulunya menggunakan keempat tempayan ini untuk mengisi air yang kemudian digunakan berwudhu. Konon, air dari tempayan tersebut merupakan air suci karena khasiatnya yang dapat menjadi sarana pengobatan dan memberi kekuatan. Masyarakat umum saat ini diperbolehkan meminum air suci dari tempayan melalui arahan dari juru kunci makam.

Fasilitas yang Tersedia di Kawasan Wisata

Fasilitas Makam Raja-Raja Imogiri
Image Credit: Goole Maps Wiwin Oktavianti

Karena sudah dibuka sebagai destinasi wisata untuk masyarakat umum, fasilitas yang tersedia di Makam Raja-Raja Imogiri termasuk lengkap. Anda bisa menemukan tempat parkir yang cukup luas, toilet umum, mushola, sampai pemandu wisata yang siap mengantarkan untuk menelusuri seluruh penjuru makam.

Bahkan sudah tersedia buku sejarah Kerajaan Mataram yang akan memudahkan anda memahami selama penelusuran makam berlangsung. Lalu tempat sewa baju adat juga sudah disediakan di lokasi, sehingga anda tidak perlu repot membawanya sendiri dari rumah. Dan ada juga beberapa warung yang menjual makanan dan minuman untuk mengganjal perut selama berada di destinasi.

Punya sejarah yang panjang, anda yang menyukai wisata sejarah tentu tidak boleh melewatkan berkunjung ke kompleks Makam Raja-Raja Imogiri ketika berada di Yogyakarta. Terlebih letak dari kompleks pemakaman tersebut berada tidak jauh dari Keraton Yogyakarta. Dan ada banyak hal menarik yang bisa anda temukan di sana. Bagaimana, tertarik untuk datang?

REKOMENDASI DESTINASI