5 Pakaian Adat Jawa Tengah Laki-Laki & Perempuan

Pakaian Adat Jawa Tengah

Pakaian Adat Jawa Tengah merupakan warisan budaya dari Kerajaan Mataram dan sekitarnya yang patut dilestarikan. Jenis busana menyiratkan filosofi kehidupan, serta hubungan antar manusia dan hubungan manusia dengan Tuhan. Baju adat Jawa Tengah dikenakan untuk acara pernikahan, upacara adat atau acara-acara resmi.

Indonesia memiliki keanekaragaman budaya yang berasal dari ratusan suku. Dari sekian banyak budaya, Jawa Tengah mempunyai pakaian adat yang unik dan ikonik. Setelannya lengkap mulai dari ujung kepala hingga ujung kaki. Biasanya baju tradisional ini dikenakan di acara kesenian, upacara adat, sampai acara pernikahan. Berikut beberapa pakaian adat tradisional Jawa Tengah yang perlu untuk Anda ketahui.

1. Pakaian Jawi Jangkep

Pakaian Jawi Jangkep

Image Credit: Instagram.com @gabrielmahendraadi

Jawa Tengah dikenal dengan kekuatan budayanya yang masih lestari hingga sekarang. Hal ini tercermin dari bagaimana masyarakatnya menjunjung tinggi tradisi dan warisan leluhur. Salah satunya baju Jawi Jangkep yang masih sering digunakan saat upacara adat atau acara kenegaraan. Pakaian ini kerap dikenakan oleh pria wajarnya dipakai untuk acara-acara formal.

Dulu, pakaian Jawi Jangkep dikenakan oleh abdi dalem kerajaan, serta pernikahan adat Jawa Tengah. Terdiri dari baju beskap, blangkon, kain jarik, stagen, keris, dan cemila atau alas kaki. Masing-masing bagian dari baju Jawi Jangkep mempunyai makna filosofis yang selaras dengan kehidupan manusia. Begitu pula dengan hubungan manusia dan lingkungan, serta sesamanya.

Umumnya warna beskap gelap seperti hitam, biru tua, merah bata, ataupun hijau tua. Bahannya berupa kain tebal berwarna polos, pada bagian leher diberi kerah yang tidak berlipat. Potongan beskap bentuknya asimetris, digunakan sebagai tempat penyimpanan keris di bagian belakang. Baju beskap memiliki kancing di sebelah kanan dan kiri, atau bagian depan saja.

Jawi Jangkep

Image Credit: Instagram.com @r_wisnu_w

Blangkon pada pakaian adat ini mempunyai makna bahwa laki-laki harus memiliki pikiran yang teguh, tidak mudah terombang-ambing pada setiap keputusan. Lalu beskap dengan kacing di kanan kirinya menyiratkan, bahwa laki-laki Jawa perlu hati-hati dalam memperhitungkan segala perbuatannya. Agar tidak menyesali kehidupan di kemudian hari.

Jarik dikenakan dengan cara dilipat bagian pinggirnya secara vertikal. Tujuannya agar tidak terlepas dari wirunya atau lipatannya. Penggunaan jarik seperti ini tidak lepas dari makna filosofis Jawa, artinya bahwa laki-laki harus cermat dalam bertindak supaya tidak keliru dalam menentukan langkah. Pastikan pilihan yang diambil tidak melenceng dan menghendaki hasil baik.

Kemudian keris yang diselipkan di pinggang menggambarkan keperkasaan lelaki Jawa. Ditempatkan di bagian belakang untuk mengisyaratkan bahwa manusia patutnya senantiasa bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Manusia harus mampu membentengi diri agar terhindar dari segala godaan setan yang menyesatkan.

2. Pakaian Adat Kebaya

Pakaian Adat Kebaya

Image Credit: Facebook.com @janeva.riaspengantin

Jika Jawi Jangkep adalah pakaian Jawa khusus laki-laki, maka pakaian wanita Jawa identik dengan kebaya. Baju adat ini masih sering dijumpai dalam acara pernikahan, ataupun acara-acara formal. Kebaya sendiri menggambarkan keteguhan dan kelembutan seorang perempuan. Persis seperti tampilan wanita Jawa dengan wajah lembut, rambut berkonde, dan sikap anggun.

Kata kebaya diduga berasal dari bahasa Arab yaitu ‘abaya’, yang artinya pakaian. Banyak versi terkait datangnya pakaian kebaya ke Nusantara. Ada pendapat yang menyebut jika baju ini berasal dari Tiongkok ratusan tahun lalu. Baju wanita Jawa ini menyebar mulai Malaka, Jawa, Bali, Sumatera, dan Sulawesi. Akulturasi yang berlangsung membuat pakaian ini diterima dengan mudah.

Ada pula yang menyebutkan bahwa kebaya sudah ada sejak abab ke-15. Bentuk pakaiannya telah muncul di Kerajaan Majapahit sebagai busana kerajaan milik permaisuri dan para selir raja. Oleh karena itu, sebelum tahun 1600-an kebaya merupakan simbol pakaian keluarga kerajaan. Kala itu hanya kerabat kerajaan saja yang boleh mengenakannya.

BACA JUGA:  10 Wisata Pantai di Tegal yang Hits & Populer

Kemudian selama Belanda menjajah Pulau Jawa, para perempuan Eropa turut mengenakan kebaya sebagai pakaian resmi. Desainnya diubah, dari bahan kain mori sederhana menjadi bahan sutra dengan sulaman warna-warni. Tren tersebut berlangsung sepanjang abad ke-19, dimana semua kelas sosial baik perempuan Jawa maupun peranakan Belanda memakai kebaya.

Busana kebaya juga sempat digunakan sebagai pembeda status sosial di masa kerajaan. Perempuan golongan ningrat dan bangsawan memakai kebaya dari bahan sutra, brukat, atau beludru. Sedangkan perempuan keturunan Belanda dan Indonesia mengenakan kebaya dari katun halus. Sementara perempuan kelas bawah memakai kebaya dari bahan katun yang tipis dan murah.

Popularitas kebaya mulai menurun ketika Nusantara dalam kekuasaan Jepang. Hal ini karena perdagangan tekstil Indonesia saat itu terputus. Di sisi lain, kebaya dianggap sebagai pakaian perempuan tahanan, pekerja paksa, dan masyarakat bawah. Namun pandangan ini segera hilang setelah Indonesia menyatakan kemerdekaan.

Pakaian Kebaya

Image Credit: Facebook.com @mediaogo

Presiden Soekarno yang pertama kali mengubah pandangan masyarakat tentang kebaya. Pada tahun 1940-an beliau menetapkan kebaya sebagai kostum nasional. Kemudian pakaian adat ini turut menjadi lambang emansipasi perempuan. Mengingat bahwa baju adat khas Jawa ini melekat dengan tokoh perempuan yaitu RA Kartini, awal mula kebaya disebutkan sebagai makna keteguhan.

Perempuan Jawa memadukan kebaya dengan kain bermotif batik. Baju adat Jawa Tengah ini memiliki ciri khas tersendiri, tampak dari cara pemakaian kain kebaya dan corak batik yang digunakan. Sering kali yang dikenakan berupa model kebaya Solo atau kebaya khas Keraton Surakarta. Ada pula jenis kebaya pendek yang terbuat dari bahan katun, umumnya berwarna polos.

Lalu kebaya yang dipakai untuk upacara pernikahan ialah model panjang. Terbuat dari bahan brokat berwarna gelap seperti hitam dan merah tua, serta dihiasi dengan pita emas. Meskipun kebaya terlihat sebagai pakaian sederhana, tapi makna filosofinya amatlah mendalam dan sejalan dengan kehidupan serta kepribadian perempuan Jawa.

Kesan sederhana dari kebaya merupakan cermin kesederhanaan masyarakat Indonesia. Bawahan jarik melambangkan sifat dan tampilan perempuan yang lemah lembut. Lilitan kain yang ketat membuat perempuan sulit bergerak, sehingga memaksa perempuan tetap bersikap hati-hati dalam setiap geraknya. Filosofi lainnya ialah perempuan harus bertutur kata lembut dan halus dalam bertindak.

Kain jarik sebagai penutup bawah juga punya arti bahwa wanita patut menjaga kesucian diri sendiri. Stagen yang berfungsi sebagai ikat pinggang menyimbolkan usus panjang. Dalam filosofi Jawa perumpamaan tersebut bermakna kesabaran yang luas. Sedangkan potongan kebaya mengikuti bentuk tubuh menggambarkan bahwa perempuan harus bisa menyesuaikan diri dengan keadaan.

Di masa kini kebaya sudah dimodifikasi dalam berbagai motif modern. Pada momen acara keperempuanan, atau acara formal kerap menggunakan kebaya sebagai dresscode. Bahkan beberapa daerah merancang kebaya dengan model tertentu, menyesuaikan budaya yang berkembang di wilayah tersebut. Begitu pula filosofi makna di setiap corak yang ditorehkan dalam kebaya.

3. Pakaian Adat Basahan

Pakaian Adat Basahan

Image Credit: Facebook.com @thariie.vhaedziian

Warisan budaya satu ini sering disebut pakaian Solo Basahan, biasanya dikenakan oleh para pengantin Jawa. Berasal dari Keraton Surakarta Hadiningrat dan termasuk busana mewah di kalangan keraton. Dulu, busana dan tata rias basahan hanya boleh digunakan oleh putra-putri Sultan, Sunan, atau Raja. Namun seiring berkembangnya zaman mulai diterapkan oleh semua lapisan masyarakat.

BACA JUGA:  Tumurun Private Museum, Koleksi Karya Seni Antik di Solo

Busana pengantin ini diperkirakan muncul setelah adanya Perjanjian Gayatri. Kala itu gaya busana Keraton Yogyakarta Hadiningrat mengadaptasi tren mode di Keraton Surakarta Hadiningrat. Awalnya berupa hadiah dari Susuhan Paku Buwono II kepada sang putra, yaitu Pangeran Mangkubumi. Setelah itu, Keraton Surakarta Hadiningrat membuat desain baru dengan gaya barat.

Pakaian adat basahan akan dikenakan pengantin mulai waktu akad nikah sampai upacara ‘Panggih’. Busana ini juga dikenal dengan sebutan dodot, kedua mempelai akan mengenakan kain kemben panjang dan lebar bernama kain dodot. Kainnya bermotif batik dengan warna dasar tertentu, motif pada kain dilukis dengan air emas atau diprada.

Seperti halnya kebaya yang sarat makna, basahan juga memiliki arti filosofis kehidupan. Kebaya mempunyai arti agar manusia berserah diri kepada Tuhan Yang Maha Esa. Setiap elemen pada busananya merupakan doa dan harapan untuk kedua mempelai. Semoga dapat membangun keluarga yang harmonis, sejahtera, bahagia, dan hidup berpegang teguh pada petunjuk Sang Maha Kuasa.

Pakaian basahan pada pengantin wanita ditambah riasan paes berwarna hijau. Hal ini melambangkan agar mempelai putri dapat berpikir positif di segala kondisi. Sedangkan bentuk alis bercorak Menjangan Meranggah, yang menyiratkan semangat dan keceriaan. Paes dan pakaian adat pengantin ini sudah menjadi satu paket, jadi tidak bisa dipisahkan satu sama lain.

Pakaian Basahan

Image Credit: Bukalapak.com

Selanjutnya ialah penataan sanggul pada pengantin wanita, termasuk dalam adat pernikahan Solo Basahan. Penggunaan sanggul berbentuk Bokor Mengkurep, artinya pengantin wanita diharapkan mandiri, dan nerima ing pandum atau selalu bersyukur atas segala pemberian Tuhan.

Berikutnya dodotan yang dikenakan mempelai wanita, semacam kemben yang menutupi bagian dada. Dodotan sendiri berupa kain kampuh hijau, dengan paduan prada warna emas bermotif alas-alasan. Kain kampuh ini memiliki ukuran panjang sekitar 4,5 meter. Maknanya yakni menyatukan jiwa raga dengan alam, serta berarti kemakmuran dan kewibawaan.

Kemudian busana basahan pada pengantin pria cenderung sederhana. Namun mencerminkan sifat seorang raja yaitu gagah, berwibawa, dan elegan. Menggunakan dodot mulai dari atas perut sampai lutut, bagian atas dibiarkan telanjang dada. Kampuh dodot diikat dengan ukup dan epek timang untuk menyelipkan keris.

Pengantin pria tidak mengenakan paes melainkan bagian rambut ditutup dengan Kuluk Mathak. Zaman dulu warna kuluk disesuaikan dengan strata sosial di masyarakat. Misalnya kuluk warna biru muda keputihan biasanya dipakai oleh Raja. Lalu warna biru muda dikenakan oleh Pangeran Adipati, dan warna biru tua digunakan oleh sentana dalem dan kanigaran raja.

4. Pakaian Adat Surjan

Pakaian Adat Surjan

Image Credit: Instagram.com @ade_imam

Surjan merupakan baju adat laki-laki khas Jawa dengan kerah tegak, berlengan panjang, dan bermotif lurik. Kata surjan sendiri diambil dari gabungan dua kata, yaitu kata suraksa-janma artinya menjadi manusia. Surjan juga berasal dari istilah Siro dan Jan, yang berarti pelita atau pemberi terang. Busana adat ini sering digunakan pria ketika upacara adat Grebeg di Yogyakarta.

Konon Surjan adalah pakaian khas Kerajaan Mataram, sebelum terpecah menjadi Surakarta dan Yogyakarta. Awalnya baju khas Jawa ini diciptakan oleh Sunan Kalijaga yang terinspirasi oleh model pakaian kala itu. Kemudian Surjan dijadikan pakaian para anggota Kerajaan Mataram. Biasanya pakaian ini dipadu dengan kain jarik bermotif, serta blangkon sebagai aksesori kepala.

Guntingan kain Surjan mempunyai ciri khas yang unik, pada bagian leher disebut Wungkal Gerang. Wungkal ialah sejenis batu yang berbentuk perahu jung, masyarakat Jawa menggunkannya untuk mengasah pisau atau senjata tajam. Sedangkan kata Gerang berarti tua atau lama.

BACA JUGA:  16 Oleh-Oleh Khas Solo yang Wajib Anda Bawa Pulang

Lalu guntingan pola lengan Surjan disebut Kadal Meteng atau Kadal Hamil, lalu ujung lengannya disebut Nlale Gajah artinya belalai gajah. Pada bagian dada bentuknya berupa tangkepan, kerap dijuluki Sogok Upil atau sebutan kotoran yang ada di hidung. Polanya berbentuk seperti bilah pedang dengan posisi runcing di bawah.

Surjan juga disebut sebagai pakaian takwa, karena mengandung filosofi spiritual. Seperti 6 biji kancing pada bagian leher yang menggambarkan rukun iman. Dua buah kancing di bagian dada kiri dan kanan sebagai simbol dua kalimat syahadat. Tiga kancing bagian dada dekat perut letaknya tertutup, menyiratkan 3 macam nafsu manusia yang harus dikendalikan.

Pakaian Surjan

Image Credit: Shopee.co.id

Nafsu-nafsu tersebut diantaranya nafsu bahimah (hewani), nafsu syaitonaiah (nafsu setan), dan nafsu lauwamah (nafsu makan dan minum). Lalu 5 buah kancing pada lengan Surjan melambangkan lima Rukun Islam. Diantaranya Syahadat, Salat, Puasa, Zakat, dan Haji bagi yang mampu.

Pakaian Surjan sendiri terdiri dari dua jenis, yaitu Surjan Lurik dan Surjan Ontrokusuma. Surjan Lurik mempunyai motif garis-garis, yang biasa dikenakan oleh para abdi dalem kesultanan. Pada masa Kerajaan Mataram, Surjan motif ini dipakai aparat kerajaan hingga prajurit. Kini Surjan bukan hanya dikenakan oleh anggota keraton, tapi mulai dipakai untuk acara pernikahan.

Besar kecilnya motif lurik merupakan pembeda kedudukan atau status sosial pemakainya. Semakin besar lurik tandanya jabatan yang diampu semakin tinggi. Sedangkan bila ukuran lurik kecil berarti kedudukannya semakin rendah. Begitu pula dengan warna dasar kain, warna-warna lurik menandakan pangkat sesuai dengan gelar kebangsawanannya.

Sedangkan para bangsawan tertinggi serta kerabat kerajaan menggunakan Surjan Ontrokusumo. Bahan pakaiannya terbuat dari kain sutera halus bermotif aneka bunga sebagai hiasannya. Umumnya Surjan jenis ini digunakan ketika upacara adat atau perayaan hari-hari besar kerajaan. Semakin rumit pola motifnya berarti harga Surjan bertambah mahal.

5. Pakaian Adat Beludru

Pakaian Adat Beludru

Image Credit: Facebook.com @yusniarti.khairy

Baju adat ini merupakan golongan kebaya yang terbuat dari bahan beludru. Kain yang digunakan sangat halus dan adem ketika dikenakan. Bagian dalamnya tidak kasar saat bergesekan dengan permukaan kulit. Busana beludru biasanya dipakai oleh perempuan Jawa Tengah, baik untuk acara formal seperti upacara adat maupun acara pernikahan.

Kebaya beludru umumnya memadukan kain kemben, tapih pinjung, dan stagen. Apabila digunakan oleh laki-laki, maka dilengkapi blangkon dan keris di belakang pinggang. Kemben merupakan kain tebal yang dililitkan satu sama lain untuk mengunci kain. Fungsinya sebagai kain pelapis bagian dalam, agar bentuk tubuh si wanita tetap terjaga tegak saat duduk.

Pakaian Beludru

Image Credit: Roisulaskari.com

Stagen disebut korset sebagai pelengkap pakaian adat ini, berupa gulungan kain kecil dan panjang. Kain tersebut dipakai di bagian dalam untuk menahan jarik agat tidak melorot, fungsinya mirip seperti sabuk. Penggunaan stagen dimaksudkan untuk menekan perut agar tidak terlihat buncit. Selanjutnya kain tapih tanjung, yaitu kain yang terbuat dari jarik bermotif batik.

Kain tapih tanjung berfungsi sebagai bawahan kebaya beludru, dan menutupi stagen agar tidak terlihat dari luar. Kain ini digunakan pada bagian perut dan pinggang, dengan cara melilitkannya secara memutar mulai dari kiri ke kanan. Kain tapih pinjung mempersempit gerakan wanita, sehingga menggambarkan perempuan harus bersikap lemah lembut.

Indonesia mempunyai keanekaragaman budaya yang patut dilestarikan. Salah satunya pakaian adat Jawa Tengah, yang masih sering dikenakan untuk upacara adat tertentu. Bahkan ada beberapa busana yang digunakan sebagai pakaian pengantin, baik mempelai pria maupun wanita. Setiap baju adat Jawa Tengah mempunyai filosofi kehidupan yang bermakna dalam.